Kisah Petualangan Menuju Wisata Riam Dait

Dalam Gelap Menuju Riam Dait

Langit telah gelap, jalan yang kami lalui sudah dirundung keremangan. Singgah di Danau Lait siang tadi cukup memakan waktu, kami agak kesorean di jalan. Kisah petualangan kami berlanjut, pukul 6 petang kami sampai di simpang empat Desa Sekendal menuju Riam Dait. Kami berhenti sejenak barang untuk melepaskan perih dan penat di bokong. Minum sedikit air untuk menjaga kewarasan.

Waktu istirahat benar-benar kami minimalisir, karena kami tahu perjalanan belum selesai. Kali ini jalurnya benar-benar offroad tanah merah, tampak rata di dekat simpang ini. Perjalanan malam kami jalani. Namun, apa yang kami temui di depan sungguh belum pernah terbayang oleh saya.

Jalan tanah merah yang rata hanya sedikit bonus dalam petualangan malam kami, hanya beberapa menit kami menikmatinya. Track berikutnya, jalan dihiasi lubang-lubang menganga bekas ban truk yang amblas dengan panjang sekitar satu meter dan lebar setengah meter. Ban motor majid menyapa batu dan tanah bergantian. Yang sangat kami syukuri, Alhamdulillah, jalur ini kami lintasi dalam musim kering.

Sepanjang jalan, hampir tidak ada sama sekali rumah yang saya lihat. Hanya bayangan hitam pohon-pohon kayu dan sawit. Antara harap dan was-was, motor tetap melaju dengan optimisme yang telah terlatih sejak kami menjalani diksar di Mapala Untan. Seperti kisah-kisah petualangan kami sebelumnya.

Majid Sang Navigator Perjalanan

Orientasi perjalanan kami sangat tergantung dengan majid sebagai navigator. Selain punya smartphone yang sudah terinstal dengan peta offline, majid juga satu-satunya yang sudah pernah mengunjungi Riam Dait. Saya sendiri sangat percaya dengan kemampuan majid. Namun, gelap malam dan kondisi jalan menyirami tunas was-was yang mulai tumbuh. Namun was-was tersebut akhirnya sirna setelah kami mendapai papan penunjuk jalan.

Di simpang jalan kami kembali istirahat sejenak (akhirnya bisa BAK dengan tenang). Kisah petualangan kami diteruskan. ternyata setelah jauh meningggalkan jalan aspal, ada pemukiman yang cukup ramai yang kami lewati. Walaupun semua rumah tampak sudah tertutup, ada sedikit kelegaan ketika melihat rumah-rumah tersebut.

Hanya sejenak pemukiman tersebut terlewati, pohon-pohon dan semak menemani perjalanan kami. Tidak ada yang mengkhawatirkan kami hingga kami sampai di sebuah tanjakan. Awalnya terasa tidak masuk akal bagi kami untuk melewatinya untuk sampai di Riam Dait.

Tanjakan dan Jebakan Kerikil

Motor yang saya kendarai sempat meluncur kebelakang hingga beberapa meter, ban belakang kami masuk kedalam saluran air yang untungnya tidak terlalu dalam. Akhirnya kami sampai di tanjakan tersebut, seperti sebuah batu besar yang ditempeli dengan tanah merah dan ditaburi bebatuan kali dan kerikil. Majid turun dari motor, demikian pula agri. Gas motor ditarik dengan konsentrasi tinggi, sedikit kesalahan bisa mengundang konsekuensi yang mungkin akan berat.

Motor kami terjebak dalam kolam kerikil, gas saya tarik lebih dalam. Aroma karet terbakar menyeruak, asap tipis perlahan naik dari ban motor majid. Jika ada masalah pada ban kendaraan kami, kisah petualangan ini akan menjadi mimpi buruk. Majid mencoba menggali dan membuang sebagian kerikil yang menahan motor kami.

Alhamdulillah, setelah mencoba mendorong dengan sekuat tenaga, masing-masing motor kami berhasil keluar dari kolam kerikil. Keringan telah membanjiri pakaian, padahal udara telah menjadi dingin. Perjalanan kami lanjutkan.

Hampir pukul 8, kami sampai di lapangan parkir pengunjung Riam Dait, sekitar belasan motor roda dua terparkir di lapangan tersebut. Seorang laki-laki dewasa mendatangi kami dan menyapa dengan ramah. Beliau menyampaikan untuk urusan administrasi sebaiknya di urus besok. Mungkin prihatin dengan muka kami yang kucel, ditambah waktu kedatangan kami yang sudah malam.

Lokasi camping utama di sekitar riam dait adalah gundukan pasir di tepi sungai tidak jauh dari Riam Dait tingkat terbawah. Saat musim hujan, gundukan tersebut akan terendam. Suara-suara serangga malam berpadu dengan white noise air terjun. Dengan penerangan seadanya kami menyiapkan makan malam. Karena baru pertama kali datang ke Riam Dait, saya sendiri sangat berhati-hati untuk mendekati air (padahal…).

Tidak banyak yang kami lakukan setelah makan malam, perjalanan seharian dari Pontianak sangat menguras tenaga. Tidak lama setelah makan malam, kisah petualangan kami hari itu diakhiri dengan tidur.

Berbagi berarti peduli!

shares