Tips Api Unggun Camping Ramah Lingkungan

Camping tanpa api unggun itu seperti sayur tanpa garam. Duduk mengelilingi api sambil menunggu air memanas untuk membuat kopi, memanggang ikan, berbagi cerita, tawa, menciptakan kenangan yang merupakan salah satu kemewahan dunia bagi orang-orang dengan jiwa petualang.

Api Unggun. Image by Orhan Can from Pixabay

Meskipun api unggun bisa kita katakan dapat menjadi sarana untuk menciptakan ikatan antara kita dan orang-orang yang duduk di sekitarnya, api unggun juga bisa sangat berbahaya.

Kecelakaan api unggun menyebabkan ribuan anak-anak dan orang dewasa ke ruang gawat darurat dengan luka bakar setiap tahun. Luka bakar menyebabkan 74 persen dari semua cedera yang diderita anak-anak yang berkemah, dan hampir 50 persen anak-anak yang dirawat di rumah sakit dengan luka bakar berusia kurang dari 4 tahun.

Tidak hanya berbahaya bagi orang yang camping, api unggun juga bisa membahayakan keseluruhan ekosistem jika tidak dilakukan dengan aman dan bertanggung jawab.

Jadi ikuti tips ini untuk memastikan bahwa tradisi berkemah favorit Anda menyenangkan dan aman bagi anda dan lingkungan!

Ketahui peraturan lokal

Tidak semua pengelola lokasi camping mengizinkan kita untuk membuat api, terutama pada musim kemarau. Kalaupun lokasi kita melaksanakan camping seperti tidak ada pengelolanya, sebaiknya kita mengidentifikasi potensi bahaya kebakaran yang mungkin terjadi di lokasi tersebut.

Sebagian hutan relatif tidak mudah terbakar, sebagian lainnya mungkin sangat mudah terbakar. Jenis hutan yang mudah terbakar misalnya hutan di lahan gambut, hutan kerangas dan area dengan banyak tumbuhan ilalang. Membuat api unggun di sekitar lokasi yang mudah terbakar menuntut kita harus ekstra hati-hati.

Gunakan perapian yang sudah ada

Lokasi-lokasi camping yang umum biasanya juga sudah tersedia tempat api unggun di sekitarnya. Anda mungkin tidak perlu membuat perapian baru yang mungkin akan merusak hutan, tidak perlu mengambil batu-batu besar di sekitarnya (yang mungkin digunakan oleh makhluk hutan lainnya sebagai rumah) untuk perapian.

Jika ada bekas perapian dari orang yang sebelumnya menggunakan lokasi camping kita, gunakanlah. Jangan membuat perapian baru yang tidak akan baik pengaruhnya bagi lingkungan. Sebisa mungkin, minimalisir jejak yang kita tinggalkan di hutan.

Direkomendasikan untuk menggunakan lapisan bakar antara api dengan tanah. Ini bisa kita lakukan dengan menutup tanah dengan kain atau terpal, lalu kain terpal tadi kita tutupi dengan tanah setebal 3-5 inci tanah.

Lapisan tersebut akan membantu mengurangi dampak panas api terhadap makhluk hidup yang terdapat di bawahnya, seperti serangga dan akar-akar tumbuhan. Setelah api benar-benar padam, buang tanah yang ada di atas kain.

Singkirkan bahan yang mudah terbakar

Daun kering dan bahan ringan lainnya di lantai hutan bisa menjadi bahan mudah terbakar dan mudah di terbangkan angin, sehingga bisa menyulut api di tempat yang tidak kita inginkan. Api yang tidak diinginkan tersebut bisa menjadi api yang tidak terkontrol karena kita tidak mengetahuinya.

Mengejar semua bara api yang diterbangkan angin adalah risiko yang sebenarnya tidak perlu. Karena itu, penting untuk menyingkirkan bahan-bahan ringan yang mudah terbakar dari sekitar api yang kita buat. Batuan yang mengelilingi api bisa berfungsi untuk memberikan perlindungan terhadap angin yang mungkin menerbangkan percikan api ke hutan di dekatnya.

Pastikan juga kalau kendaraan, tenda dan barang-barang lainnya ditempatkan pada jarak yang cukup jauh dari api.

Perhatikan arah angin

Anda juga perlu memerhatikan intensitas dan arah angin. Melihat prakiraan cuaca di televisi mungkin bisa berguna. Jika sudah dilokasi, pastikan bahwa angin tidak akan membawa api menuju tenda atau tempat-tempat yang rawan terbakar disekitar lokasi camping.

Susun kayu persediaan dengan posisi menghalangi angin dan agak jauh dari api. Hal ini akan membantu mengurangi potensi terbangnya bara api yang bisa memicu kebakaran.

Perhatikan bahan bakar Anda

Umumnya kita harus mencari-cari kayu bakar disekitar lokasi camping untuk membuat api unggun. Idealnya, gunakan hanya ranting dan kayu mati yang telah jatuh ke tanah. Jangan menebang pohon untuk membuat api unggun.

Pastikan Anda tidak membuat api yang lebih besar dari api yang bisa Anda jaga dengan aman. Mungkin tidak apa-apa untuk membakar sebagian sampah Anda, seperti serpihan kertas, namun, jangan pernah membakar plastik atau logam. Jangan pernah meninggalkan api unggun tanpa pengawasan.

Jaga agar api tetap dalam ukuran yang bisa di jaga, jangan terlalu besar. Ukuran yang disarankan bisa sekitar 2ft x 2 ft x 2ft fire.

Sediakan air di dekat api

Anda bisa menggunakan botol atau kantong plastik, letakkan di dekat api yang anda buat. Air ini akan sangat bermanfaat jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan karena api yang sedang kita jaga.

Jika api sudah selesai digunakan atau kita akan beranjak dari lokasi semula ke lokasi lain, maka pastikan bahwa api sudah benar-benar padam. Sebagai indikatornya, anda bisa melihat jika asapnya sudah hampir tidak ada lagi yang naik. Atau tidak lagi terdengar bunyi bara yang terkena air, maka api seharusnya sudah benar-benar padam. Jika masih kurang yakin, aduklah abu sisa pembakaran dengan air yang masih ada atau masih tergenang di sekitar perapian.

Berbagi berarti peduli!

shares