Wisata Danau Lait Tayan Hilir Kala Kemarau

Hempasan air yang terlempar dari dinding batu membuat suara bising yang menenangkan. Sesekali burung-burung penghisap madu menjerit menambah riuh hutan hujan tropis Kalimantan. Walaupun kemarau dibayangi api dan asap, hutan hujan tropis Riam Dait tetap riuh. Pagi itu, 18 Agustus 2018, kami sibuk bergaya di depan kamera. Berusaha mendapatkan sudut yang pas dengan objek wisata air terjun Riam Dait yang spektakuler. Ini adalah sebagian dari cerita tentang perjalanan kami ke Riam Dait, bagian saat kami singgah di Danau Lait, Tayan Hilir.

Perjalanan saya bersama teman-teman seperjuangan di organisasi pencinta alam ini bermula dari diskusi singkat via WA oleh Agri dan Majid. Saya sendiri sebenarnya sudah berencana untuk ke Bengkayang, namun batal. Untungnya Majid menghubungi saya dan mengajak untuk berangkat ke Landak bersama mereka.

Berbagai perlengkapan tim sudah disiapkan oleh Majid, Kojay dan Agri, saya sendiri hanya membawa perlengkapan pribadi. Ditambah beberapa makanan ringan dan kopi. Rencana kumpul jam 9 pagi 17 Agustus 2018, saya menunggu dirumah. Sekitar pukul 9.30 kami sudah berkumpul. Setelah melengkapi beberapa barang yang mungkin akan diperlukan, kami berangkat pukul 10.

Jalur Akses Wisata Riam Dait

Riam Dait atau masyarakat lokal juga mengenalnya sebagai Rombok Remabo, terletak di Desa Skendal, Kecamatan Air Besar, Kabupaten Landak. Dari Pontianak, Air Terjun Dait Dapat diakses dari jalur barat melalui Sungai Pinyuh, Anjungan, Mandor hingga Kota Ngabang. Selanjutnya masuk dari simpang YonArmed kearah Serimbu, belok ke timur melewati perkebunan sawit hingga bertemu simpang Riam Dait.

Jika melalui jalur timur, kita bisa melewati Jembatan Kapuas Dua terus ke arah Sanggau. Melewati Tayan, Simpang Ampar, Batang Tarang hingga Sosok. Dari Sosok kita bisa mengambil jalan ke arah Ngabang, bisa juga ke arah Simpang Sosok – Entikong. Terus ke Kembayan hingga masuk ke Simpang Muara Ilai, hingga KM 28 dimana simpang Riam Dait berada.

Dalam perjalanan berangkat kami, kami melewati jalur timur melewati Sungai Ambawang. Jalur ini dipilih karena selain lebih dekat, juga kondisi jalan yang relatif lebih baik. Dan satu alasan lagi, kami punya misi untuk singgah di Objek Wisata Danau Lait. Jadilah kami singgah di Danau Lait sekitar pukul 12.10.

Baca juga: Rumah Betang Ensaid Panjang, Potensi Pariwisata Sintang

Objek Wisata Danau Lait Kering

Kondisi Danau Laet sedang kering kerontang, air hanya tersisa di aliran sungai-sungai kecil. Lain dari sungai, hanya tanah hitam gambut yang merekah dengan beberapa tumpukan kayu bekas terbakar. Bagi saya sendiri, tidak ada masalah dengan kondisi danau yang mengering. Bisa sampai di kawasan danau saja saya sudah sangat bersyukur.

Kawasan Danau Laet sebenarnya telah ditetapkan sebagai kebun raya. Karena satu dan lain hal, kebun raya tersebut sepertinya pindah ke Subah di Kabupaten Sambas. Namun karena sudah populer oleh berita-berita tentang kebun raya, danau Laet menjadi sangat dikenal. Sekarang danau tersebut telah menjelma menjadi objek wisata di wilayah Tayan Hilir.

Hamparan badan air yang luas adalah daya tarik utama objek wisata ini. Saat kami datang, air nya hampir tidak bersisa sama sekali. Namun danau ini tetap menarik kedatangan orang-orang yang ingin refreshing.

Baca juga: Wisata Pulau Randayan Kalimantan Barat

Jembatan Suak Oyek

Saya sendiri sudah menargetkan untuk mengunjungi salah satu objek yang ada di kawasan tersebut. Objek tersebut yaitu Jembatan Bambu Suak Oyek yang berada didalam kawasan wisata Danau Laet. Jembatan bambu tersebut berada di bawah teduhnya pohon rawa danau. Untuk masuk ke Jembatan Suak Oyek kita membeli tiket lagi seharga IDK5k.

Berjalan di atas jembatan bambu terasa teduh, meskipun dibuat secara sederhana, jembatan tersebut cukup artistik untuk dinikmati. Bagian paling menarik menurut saya adalah pohon-pohon rawa berbatang merah (kelompok Syzigium). Bentuk batang dan percabangannya artistik, menarik mata. Menurut saya sangat instagramable.

objek wisata danau lait
Jembatan Suak Oyek di Danau Lait

Ujung gertak bambu yang kami lewati berbentuk seperti menara yang tidak terlalu tinggi. Pada musim hujan menara tersebut dikelilingi oleh air, tapi saat kami berkunjung, menara tersebut dikelilingi tanah yang merekah. Tampak beberapa tumpukan kayu bekas terbakar, seperti bekas api unggun yang biasanya menemani malam campingers.

Kami mengambil beberapa gambar di gertak bambu dan foto bersama di Objek Wisata Danau Lait. Setelah itu  perjalanan kami lanjutkan menuju Ngabang.

Berbagi berarti peduli!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

shares